Tampilkan postingan dengan label PIANO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PIANO. Tampilkan semua postingan

03 Juli 2011

Sejarah piano

Piano sendiri lahir dari keinginan untuk menggabungkan keindahan nada clavichord dengan kekuatan harpsichord. Hasrat itu mendorong Marius dari Paris (1716), Schroter dari Saxony (1717), dan Christofori (1720) dari Padua, Italia, untuk membuat piano. Namun, hasil utuh dan lengkap cuma ditunjukkan Bartolomeo Christofori. Dari piano ciptaan pemelihara harpsichord dan spinet (harpsichord kecil) di Istana Florentine - kediaman Pangeran Ferdinand de’Medici - inilah piano modern berakar.

Pada pertengahan abad XVII piano dibuat dengan beberapa bentuk. Awalnya, ada yang dibuat mirip desain harpsichord, dengan dawai menjulang. Piano menjadi lebih rendah setelah John Isaac Hawkins memodifikasi letaknya menjadi sejajar lantai. Lalu, dengan munculnya tuntutan instrumen musik lebih ringan, tidak mahal, dan dengan sentuhan lebih ringan, para pembuat piano Jerman menjawabnya dengan piano persegi. Sampai 1860 piano persegi ini mendominasi penggunaan piano di rumah.

Rangka untuk senar piano pertama menggunakan rangka kayu dan hanya dapat menahan tegangan ringan dari senar. Akibatnya, ketika pada abad XIX dibangun gedung-gedung konser berukuran besar, suara piano tadi kurang memadai. Maka, mulailah dibuat piano dengan rangka besi. Sekitar tahun 1800 Joseph Smith dari Inggris membuat suatu piano dengan rangka logam seluruhnya. Piano hasil inovasinya mampu menahan tegangan senar sangat kuat, sehingga suara yang dihasilkan pun lebih keras. Sekitar 1820, banyak pembuat menggunakan potongan logam untuk bagian piano lainnya. Pada 1822, Erard bersaudara mematenkan double escapement action, yang merupakan temuan tersohor dari yang pernah ada berkaitan dengan cara kerja piano.

Notasi piano Dalam perkembangannya, sebelum memiliki 88 tuts seperti sekarang, piano memiliki lima oktaf dan 62 tuts. Ia juga dilengkapi dengan pedal. Semula pedal itu digerakkan dengan lutut. Namun, kemudian pedal kaki yang diperkenalkan di Inggris menjadi populer hingga sekarang.

Sejumlah pengembangan berlanjut pada abad XIX dan XX. Tegangan senar, yangg semula ditetapkan 16 ton pada tahun 1862, bertambah menjadi 30 ton pada piano modern. Hasilnya adalah sebuah piano dengan kemampuan menghasilkan nada yang tidak pernah dibayangkan Frederic Chopin, Ludwig van Beethoven, dan bahkan Franz Liszt.

Sebuah perkembangan nyata di abad XX (berawal di tahun 1930-an) adalah kehadiran piano elektronik (atau piano listrik), yang didasarkan pada teknologi elektroakustik atau metode digital. Nada suaranya terdengar melalui sebuah amplifier dan loudspeaker.

Dari sisi mutu suara, piano elektronik nyaris tak ada bedanya dengan piano biasa. Perbedaan terletak pada berbagai fitur yang melengkapinya. Fitur itu tentu tidak ada sama sekali dalam piano biasa. Misalnya, bisa dihubungkan dengan perangkat MIDI, komputer, alat rekam; memiliki pengatur volume, tusuk kontak untuk pendengar kepala; dan sebagainya.
http://www.pianoanakku.com/index.php/component/content/article/13/50-piano

Buku-Buku Metode Mengajar Piano

Buku-Buku Metode Mengajar Piano
oleh Ellyzabeth

Buku-buku piano. Perlu diketahui disamping memiliki piano akustik, buku-buku piano merupakan modal utama untuk belajar piano dan tanpa memiliki buku piano, mustahil bagi siswa piano bisa berhasil dalam belajar piano. Piano dan buku adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Belajar musik merupakan proses penanaman suatu seni dan karya pada diri anak tersebut. Anak yang sedang belajar piano sedang dibentuk untuk bisa berkarya dan memiliki nilai seni dalam hidupnya. Siswa piano pemula saat ini bisa menjadi musisi dan pengarang buku piano hebat di masa yang akan datang. Oleh karena itu, sejak dini harus ditanamkan sikap menghargai karya dan ciptaan orang lain.

Dalam proses belajar siswa harus dihindari memakai buku photocopian. Siapakah yang akan menghargai karya-karya pengarang buku piano selain dari para pemain piano dan guru-guru piano? Guru piano yang sengaja memfotocopi karya orang lain dan menjadikannya menjadi materi mengajarnya adalah guru yang tidak memiliki nilai seni dan tidak menghargai karya orang lain. Dia hanya ingin mengajarkan anak didiknya sama seperti dirinya yang hanya merugikan orang lain dan melanggar hak cipta seseorang.

Mungkin banyak orang berkata, buku piano itu mahal dan tidak semua bisa membelinya. Benar sekali, musik itu mahal dan siapa yang ingin belajar piano harus memiliki modal untuk beli piano akustik dan peralatan lainnya. Semua orang tahu belajar musik itu mahal. Lihat saja fakutas musik NUS (National University Singapura), jika ingin mendapat gelar sarjana dari sana, harus menghabiskan biaya paling sedikitnya S$ 80.000 untuk urusan kuliah. Oleh karena itu belajarlah menghargai karya orang lain yang sudah bersusah payah menempuh pendidikan dan menghabiskan banyak uang untuk bisa memberikan kontribusi dalam dunia musik. Hargailah karya orang lain maka orang lain akan menghargai karya anda sendiri.

Jika dikatakan buku piano itu mahal dan tidak sanggup membelinya, sebenarnya tidak demikian. Pada umumnya orangtua akan berusaha untuk membeli buku-buku yang dibutuhkan anak-anaknya. Permasalahan utama ada pada guru yang mengajar piano itu sendiri yang menjual buku fotocopian. Jika dibandingkan membeli fotocopian dengan membeli buku aslinya tidak begitu jauh berbeda. Lagipula buku-buku piano untuk pemula hingga grade 3 masih tergolong murah antara Rp 40.000-80.000,- per buku dan itu pun sudah dipakai selama 2-4 bulan. Jadi tergolong murah jika dihitung per bulannya kan!

Ada beberapa buku-buku metode mengajar piano yang popular saat ini meskipun tidak semuanya bisa kita dapatkan di toko buku musik Indonesia. Pertama, buku-buku metode Alfred. Buku ini relatif murah dan masih bisa dijangkau orang Indonesia pada umumnya. Metode Alfred menggunakan banyak sekali gambar berwarna-warni, dan dilengkapi dengan grafis untuk membantu dalam proses belajar disertai dengan software.

Kedua, buku-buku metode Bastien. Metode ini sangat bagus bagi mereka yang belum pernah belajar musik. Banyak guru-guru piano yang suka metode ini karena selain memiliki gambar dan garis grafis yang positif, metode ini menekankan pendekatan yang lebih awal pada teknik, pengenalan kunci-kunci dengan pendekatan yang lebih baik pada penjarian.

Ketiga, buku-buku metode Clark. Metode ini sangat bagus untuk menghasilkan dasar-dasar memainkan musik dengan baik karena siswa diperkenalkan dengan hitungan/ketukan, frase, dinamika dan bentuk. Buku ini merupakan pengenalan pada permainan secara ensemble, sejak dini.

Keempat, buku-buku metode Faber dan Faber. Buku ini sangat membantu guru-guru dalam memberikan program-pogram permulaan kepada anak-anak, sebelum mereka melangkah ke program yang lebih tinggi karena setiap halaman buku ini memiliki gambar dan grafis tetapi memberikan sedikit dasar-dasar pedagogy baru.

Kelima, buku metode Pace. Metode ini sangat baik bagi siswa pemula karena memberikan latihan-latihan piano secara solid. Memang metode ini lebih singkat tetapi lebih memberikan tantangan dibanding buku metode lainnya. Bisa dikatakan metode ini mempersiapkan para siswa pada latihan-latihan repertori klasik serta membangun kekuatan pada pemahaman interval dan membaca not, dan meningkatkan kreativitas siswa dalam mengembangkan musikalitas yang lebih lengkap.

Keenam, buku metode Robyn. Metode ini mengadopsi pendekatan membaca not, baik secara interval maupun pendekatan not tunggal. Biasanya siswa diminta menyanyikan nama-nama not dengan nyaring sementara pada saat yang sama juga memainkan contoh-contoh not. Teknik mendapat perhatian besar dan mulai diperkenalkan sejak awal dengan pentahapan yang sangat jelas. Metode ini sangat konsisten untuk menyiapkan diri siswa memainkan teknik dan tangganada seperti Hanon, arpegggio dan sebagainya serta menyiapkan siswa dalam penggunaan pedal.

Ketujuh, buku metode Suzuki. Dari namanya tentu tahu buku ini berasal dari Jepang dan sangat sukses di negara Jepang dibanding negara lainnya. Metode ini menekankan kemampuan untuk membaca not dengan sangat baik dan kemampuan mendengar yang luar biasa.

Kedelapan, buku metode Thompson. Banyak orang menganggap metode Thompson boleh dibilang kuno, meskipun demikian buku ini masih cukup berharga ditengah munculnya buku-buku teknik mengajar modern sekarang ini.

Kesembilan, buku metode Lina Ng. Metode ini lebih memfokuskan pada permainan piano dan teori musik. Di Asia metode ini banyak dipakai di sekolah-sekolah karena memiliki pendekatan yang lebih mudah, disamping penyampaiannya melalui gambar dan grafis.

Semua jenis buku diatas memiliki perbedaan satu dengan lainnya dan tugas seorang guru piano yang harus menentukan buku metode apa yang cocok untuk anak didiknya karena tidak semua siswa piano cocok untuk satu jenis buku. Beda murid meskipun pada tingkat yang sama bisa saja harus memakai buku yang berbeda pula, tergantung bagaimana seorang guru piano mengenal kualitas dan kapasitas siswa itu sejak dini. Jangan memaksakan suatu metode tertentu kepada siswa, karena jika itu dilakukan maka akan berakibat fatal bagi siswa, terlebih jika pada titik tingkat kejenuhan maka tidak menutup kemungkinan untuk kehilangan interest siswa.

http://www.pianoanakku.com/index.php/component/content/article/14-articles/53-bukubuku

Belajar Piano

Harus diakui bahwa belajar piano itu tidak mudah dan menuntut suatu usaha keras, disiplin dan dorongan yang kuat dari dalam diri sendiri. Tanpa ada dorongan dari dalam diri sendiri niscaya ia bisa berhasil. Faktor penting inilah yang harus dimiliki setiap siswa piano yang ingin berhasil. Memang banyak orang berkata, bakat seseorang yang menentukan keberhasilan seseorang. Itu benar, tetapi tak seorangpun di dunia ini yang mengetahui bakatnya tanpa terjun ke bidang musik itu. Jika ingin mengetahui apakah seseorang memiliki bakat dalam piano, maka ia harus ikuti proses belajar piano. Selama dalam proses belajar inilah, secara progresif, lambat tapi pasti, ia akan mengetahui apa ia berbakat dalam piano. Terlepas dari apakah anda mengetahui bakat anda atau tidak, ada beberapa kualitas penting yang harus dimiliki seorang pelajar piano yang ingin berhasil.
 
Ia Harus Memiliki Daya Tarik
Seorang yang ingin berhasil dalam piano, ia harus memiliki daya tarik terhadap piano. Maksudnya, ia harus senang mendengarkan permainan piano, atau senang melihat konser piano. Kita tidak bisa bayangkan jika ia tidak suka mendengarkan piano, lalu ia dipaksa belajar piano. Ketertarikan ini sangat dibutuhkan seorang siswa piano, karena ia akan menggeluti piano paling sedikitnya 6-8 tahun ke depan. Ini merupakan perjalanan yang panjang dan melelahkan, tetapi daya tarik ini akan menjadi modal utama dalam melalui semua kesulitan yang akan dihadapi.

Ia Harus Memiliki Rasa Ingin Tahu
Ketika seseorang belajar piano, ia akan disuguhkan berbagai macam informasi baik saat belajar di tempat kursus ataupun saat sedang berlatih di rumah. Banyak istilah-istilah dalam bahasa asing yang akan terus-menerus menjadi bagian proses belajarnya selama belajar piano. Seseorang yang memilki rasa ingin tahu, ia akan mencari informasi apa yang ia tidak tahu. Ia akan bertanya kepada guru piano, teman bahkan orangtuanya tentang apa yang ia tidak ketahui. Dengan kata lain ia tidak merasa bosan atau jenuh dengan banyak hal yang tidak ia ketahui tetapi memacunya untuk menggalinya sesuai kemampuannya.
 
Ia Harus Memiliki Rasa Antusias
Dalam bermain piano, seseorang harus memiliki semangat yang tinggi yang selalu membara dalam dirinya untuk terus maju hingga berhasil. Orangtua, keluarga dan sahabat bisa mendorongnya untuk terus maju tetapi dorongan dan hasrat yang datang dari diri sendiri merupakan modal utama untuk mencintai dan menyukai musik. Ini menjadi penentu bagi kemajuan siswa piano.
 
Ia Harus Memiliki Kesensitifan
Musik itu adalah ungkapan emosi dan perasaan. Oleh karena itu seluruh aspek dari diri seorang pianis seperti pikiran, jiwa dan gerak tubuhnya harus berbeda dalam keadaan 'tune' dalam mengekspresikannya. Lagu yang dimainkan harus direnungkan dan dihayati dengan hati-hati agar dapat menjiwai lagu yang dimainkan. Kepekaan ini adalah salah satu aspek yang dipercaya dapat menentukan kualitas dari seorang siswa yang berhasil. Inilah yang membuat seorang pianis berbeda dengan yang lain meskipun sama-sama bisa memainkan lagu tersebut.
 
Ia Harus Rendah Hati
Rasa percaya diri yang dibangun selama belajar piano bisa membuat pianis menjadi sombong. Ketika seorang pianis menghasilkan permainan yang indah dan sempurna, ia membutuhkan pengakuan dari para penonton dan juri, tetapi juga harus menerima batasan. Ada saatnya ia melakukan kesalahan, lupa, gugup bahkan tergelincir di saat memainkan sebuah lagu, apapun yang terjadi, ia harus menerima segala saran dan masukan dari orang-orang yang memiliki pengalaman yang lebih luas dari dirinya sendiri. Dengan kata lain, janganlah menganggap dirinya yang paling hebat dari semua orang atau mengganggap dirinya lebih hebat dari gurunya sendiri. Kerendahan hati akan menjadi keberhasilan seorang pelajar piano karena ia akan terus belajar dan belajar, tetapi kesombongan akan merupakan akhir dari karir seorang pianis.
 
Ia Harus Tekun

Ketekunan adalah kunci keberhasilan dalam bermain piano. Ada suatu perkataan "lebih baik berlatih piano 15 menit setiap hari daripada 3 jam tapi sekali seminggu." Ini mengarah pada ketekunan seorang pelajar piano. Jika ingin berhasil dalam piano, ia harus belajar dengan tekun dan tekun. Jangan pernah menganggap remeh akan ketekunan atau menggampangkan suatu latihan yang diberikan guru piano (piano tutor). Ingat! Jika bersikap "menggampangkan," ia tidak akan pernah berhasil.
Ia Harus Sabar

Selama belajar piano, ia akan menghadapi banyak kesulitan yang membuatnya merasa frustrasi. Belajar piano itu sangat sulit tetapi ia harus memiliki kesabaran dengan diri sendiri, baik dalam mengendalikan pikiran maupun seluruh tubuhnya. Hal penting lain yang perlu dimiliki adalah jangan lupa untuk bersikap sabar terhadap guru yang membimbing. Segala sesuatunya jika dikerjakan dengan penuh kesabaran akan membuahkan hasil yang maksimal. Yang jelas belajar piano butuh waktu bertahun-tahun dan tidak ada jalan pintas untuk itu. Ia perlu sabar selama tahun-tahun itu untuk bisa melihat hasilnya.
Ia Harus Rasional

Jangan sekali-kali berpikir dalam waktu singkat ia berharap dapat langsung memainkan sebuah karya Chopin, Bach, Mozart dan lain-lain. Jangan pula pernah membandingkan kemampuan permainannya dengan gurunya, ataupun orang lain yang sudah bertahun-tahun bermain piano. Sikap membandingkan merupakan sikap orang yang tidak rendah hati. Cukup konsentarasi pada seluruh jari-jari tangannya ketika memainkannya. Berpikirlah realistis dan masuk akal, serta ikuti setiap pelajaran selangkah demi selangkah.
Ia Harus Berdedikasi

Apapun yang dikerjakan, jika tanpa dedikasi yang tinggi, seseorang tidak akan berhasil. Ia harus menyediakan waktu dan kerja keras yang pantang menyerah untuk belajar piano. Jadikanlah bermain piano menjadi salah satu kegiatan yang diprioritaskan dalam kehidupannya. Dengan kata lain, apa yang gurunya minta untuk dilakukan, harus dikerjakan dengan baik dan sempurna karena itu adalah bukti dedikasinya belajar piano.
 
Ia Harus Kreatif
Musik itu adalah seni dan dimana ada seni di situ dituntut kreatifitas untuk mendapatkan suatu keindahan, keharmonisan dan hasil yang memuaskan. Sederet notasi musik (music notes), bukanlah musik itu sendiri melainkan cara bagaimana nada-nada musik itu dapat membawa sebuah pengalaman hidup melalui musik. Seorang pemain piano dituntut untuk kreatif dan inilah yang membedakan seorang pemain piano yang satu dengan yang lainnya.

http://www.pianoanakku.com/index.php/component/content/article/14-articles/13-belajar-piano