02 Oktober 2012

EAF – Equivalent Availability Factor

Suatu unit pembangkitan merupakan aset investasi yang bernilai besar. Dibutuhkan dana yang cukup signifikan untuk membangun suatu unit pembangkitan. Dengan investasi yang cukup besar, maka diharapkan suatu unit pembangkit dapat beroperasi dengan baik atau kinerjanya memuaskan. Kriteria keberhasilan suatu unit pembangkit dapat ditinjau dari berapa besar nilai keandalan unit secara equivalen (EAF – Equivalent Availability Factor). Target dari suatu unit pembangkit adalah mendapatkan nilai EAF seoptimal mungkin, dengan efisiensi setinggi mungkin (heat rate yang rendah) pada kisaran operasi rata-rata (Rated Load yang umumnya diambil dari data spesifikasi Daya Mampu Netto – DMN). Atau dengan kata lain, unit pembangkit dapat beroperasi dengan optimal dalam jangka waktu yang tidak terputus atau kontinyu dengan biaya pengoperasian yang rasional. Nilai EAF yang tinggi berarti potensial kehilangan keuntungan dari tidak beroperasinya unit pembangkit bisa ditekan seminimal mungkin. Sedangkan Heat Rate merupakan perbandingan berapa besar kalor yang dibutuhkan untuk menghasilkan daya yang diharapkan. Heat Rate rendah, maka setiap volume bahan bakar bisa menghasilkan daya listrik yang lebih besar daripada unit pembangkit yang memiliki Heat Rate yang tinggi (lebih boros). Salah satu cara mudah untuk mengetahui nilai Heat Rate unit pembangkit adalah dengan mengetahui berapa besar bahan bakar yang digunakan (Specific Fuel Consumption – SFC). Makin besar SFC pada beban yang sama, maka unit pembangkit tersebut makin boros.
Terdapat beberapa faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilan/ kinerja suatu unit pembangkit. Faktor-faktor tersebut bahkan sudah bisa terlihat sebelum unit pembangkit dibangun. Secara garis besar, faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu unit pembangkit adalah :
1. Faktor Desain
Dapat terlihat, faktor ini diawali jauh sebelum unit pembangkit memasuki Commercial Operation Date – COD. Bahkan jauh sebelum suatu unit pembangkit dibangun. Faktor desain akan sangat mempengaruhi karakteristik dari faktor-faktor berikutnya. Kalau diibaratkan suatu rumah, maka faktor desain adalah faktor yang menjadi azas suatu rumah dibangun. Pada suatu instalasi unit pembangkitan, tinjauan dari faktor desain berupa :
  • Faktor perancangan kapasitas
Perancangan kapasitas pembangkit akan mempengaruhi perancangan parameter-parameter operasi, misalnya tekanan, temperatur dan flow main steam. Tipe turbin, Single cylinder, HP with reheat, atau double LP cylinder casing.
  • Faktor pemilihan bahan bakar
Bahan bakar yang akan digunakan mempengaruhi jenis konversi energi yang akan dikendalikan menjadi daya listrik. Ambil misal pemilihan batubara jenis sub-bituminous dengan nilai kalor LHV 5000 kkal/kg. Dari spesifikasi kandungan batubara (carbon content, volatile, moisture, ash content, etc) akan mempengaruhi secara spesifik perancangan pola pembakaran, baik itu penanganan bahan bakar, maupun konstruksi furnace (ruang bakar) boiler. Selain itu, komponen pendukung pengoperasian juga akan mengikuti tipe pemilihan bahan bakar. Misalnya, desain Air and Flue Gas System, desain ash handling, bahkan desain sistem pengendalian pembakaran.
  • Faktor lokasi/ lingkungan
Faktor lokasi yang menjadi perhatian utama adalah :
- reservoir pendingin, apakah menggunakan air tawar, atau air laut
- humidity
- Corrosion Rate
- seismic movement
- wind velocity
- City Waste or Sedimentation
- Tidal
  • Faktor standar desain dan material yang digunakan
Terdapat beberapa referensi dalam perancangan unit pembangkit, bisa menggunakan ASME Code, ANSI, JIS, DIN secara konsisten. Yang dimaksud secara konsisten disini adalah faktor aspek-aspek safety dan kemudahan operasi dan pemeliharaan unit pembangkit di masa mendatang. Dengan menggunakan standar yang jelas, akan didaptkan kemudahan dalam pemilihan material dan spare part yang dibutuhkan.
  • Faktor analisa biaya
Perencanaan biaya akan mempengaruhidalam pengambilan keputusan pemilihan unit pembangkit. Pada teori ekonomi konvensional, keuntungan didapatkan dengan mengambil marjin yang besar antara biaya dan pendapatan. Tetapi pada pendekatan modern, akan terlihat bahwa komponen ekonomi bukan hanya pada biaya dan pendapatan, akan tetapi juga pada kemampuan unit pembangkit untuk mengurangi potensial loss berupa kegagalan beroperasi. Jika menitikberatkan pada fixed cost yang rendah tanpa memperhatikan kualitas sesuai dengan proporsinya, maka hampir bisa dipastikan akan berhadapan dengan variabel cost berupa biaya operasi pemeliharaan yang tinggi, dan potensial loss yang tinggi pula.
2.  Faktor Konstruksi
Setelah kaidah-kaidah desain yang sesuai diterapkan, maka fase selanjutnya dalam siklus hidup pembangkit adalah fase konstruksi (erection). Konstruktor dihadapkan pada suatu tanggung jawab untuk mewujudkan desain yang sudah disepakati ke dalam bentuk nyata. Kecerobohan dalam fase konstruksi bisa membawa dampak yang akan merugikan, bahkan bertahun-tahun sesudah COD. Hal ini sudah terbukti di banyak kasus. Keteledoran pekerja konstruksi dalam menyimpan peralatan, bahkan tertinggal dalam tube boiler, menyebabkan kebocoran yang selain menyebabkan downtime, juga bisa membahayakan keselamatan kerja bagi pelaksana pekerjaan. Peran QC dan Safety engineer sangat vital dalam fase ini. Keseuaian material, kesesuaian bentuk dengan desain, kesesuaian sistem kontrol dengan desain membuat umur pembangkit bertahan sesuai dengan umur teknis dan ekonomis yang diharapkan.
3. Faktor Komisioning
Komisioning atau fase pengetesan menjadi titik awal keberhasilan atau kegagalan suatu unit pembangkit. Fase ini dimulai dengan individual test masing-masing peralatan, menjadi individual test system, dan akhirnya secara menyeluruh test performa unit pembangkitan. Pada fase ini dilakukan fine tuning untuk mengatur sistem kontrol pembangkit agar berjalan sesuai dengan kriteria desain yang diharapkan. Kegagalan operasi pada fase ini merupakan suatu petunjuk untuk melihat potensial-potensial risk yang mungkin terjadi. Apakah unit pembangkit dapat menghadapi suatu kegagalan dengan aman (fail-safe operation). Pelaksanaan komisioning secara serius bisa memberikan gambaran yang jelas tentang kondisi awal unit pembangkit. Jika unit pembangkit lulus dari fase ini, maka unit pembangkit siap memasuki periode komersial (COD)
4. Faktor Operasi dan Pemeliharaan
Seperti mesin pada umumnya, pola operasi dan pemeliharaan akhirnya menjadi suatu faktor yang vital pengaruhnya bagi kinerja pembangkit. Pola operasi yang sesuai dengan desain (Standard Operation Procedure – SOP), pola pemeliharaan yang sesuai dengan Standard Maintenance Procedure, dan continuous Improvement akan membuat Unit Pembangkit beroperasi dengan kinerja yang baik. Dengan Kinerja yang baik, maka bisa diharapkan keuntungan dari investasi yang telah ditanamkan akan bisa diraih. Telah banyak metoda yang bagus yang sudah dikembangkan bisa diterapkan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja Unit Pembangkitan. Akan tetapi, faktor kunci dari Operasi dan Pemeliharaan yang baik adalah SDM yang berkualitas dalam hal Soft Competence dan Hard Competence, Manajerial yang baik, serta kesungguhan hati dan niat yang tulus dari tiap pelaksana pekerjaan untuk bekerja secara baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

isi di bawah sini...komentar anda : menggunakan anonimous atau menggunakan web anda contoh www.suralaya.com