24 April 2009

WAKTU DAN IBADAH

WAKTU adalah uang. Petuah itu merupakan peringatan kepada setiap manusia, akan pentingnya waktu. Lalu, sejauh manakah selama ini manusia menghargai waktu?

Motinggo Busye, dalam cerita pendek (cerpen)-nya berjudul “Nasihat untuk Anakku”, juga menyampaikan pesan moralnya. Dalam cerpen tersebut, dia mengisahkan tentang pentingnya waktu melalui sebuah dialog khusus dengan sahabatnya.

Isi pesan itu adalah “Seandainya saya mempunyai banyak uang, saya akan membelikan berjuta-juta arloji, untuk saya bagikan kepada seluruh sahabat, teman-teman saya, dan setiap orang di dunia ini.” Lalu, teman dialognya tersebut bertanya, “Untuk apa arloji sebanyak itu?” Motinggo menjawab “Agar seluruh manusia di muka bumi ini mengetahui makna waktu, dan kerugian-kerugian yang telah dialaminya setiap detik berlalu.”

Rekaman percakapan dalam cerpen tersebut memberikan penyadaran pada setiap manusia di muka bumi ini, akan pentingnya pemanfaatan waktu dari setiap detik menjelma menit, dan berlalu ke jam. Demikian seterusnya. Berhasilkah manusia melewati putaran jarum jam, dengan melakukan hal-hal bermanfaat?

Manfaat utama waktu adalah untuk mengukur distribusi normal manusia, hingga ia meninggal dunia (taksiran dalam tahun). Sebelum melangkah ke perhitungan, perlu diketahui dulu jumlah detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan dalam satu tahun.

Logikanya, selama seumur hidup, waktu yang digunakan manusia untuk tidur yakni diperkirakan 17 -25 tahun. Alangkah sayangnya. Padahal, saat ajal menjemput, manusia akan tertidur dari dunia untuk selamanya.

Sementara untuk aktivitas, umumnya manusia menjalankan rutinitas pada siang hari. ber jumlah setara dengan 25 tahun.

Aktivitas siang hari itu juga terbagi lagi dalam beberapa hal. Ada yang bekerja, atau bercinta. Ada yang belajar atau mengajar. Ada yang sekolah atau kuliah. Ada yang makan sambil jalan-jalan. Ada pula yang gambling (berjudi) sambil maling. Dan, masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan satu dengan yang lain.

Bila waktu yang kita gunakan untuk tidur, aktivitas, dan rileksasi selama 50 tahun, muncul pertanyaan yang sangat sakral, “kapan Ibadahnya?”

Padahal, manusia diciptakan oleh Allah hanyalah beribadah kepada-Nya. Karena—satu hal yang pasti—manusia akan kembali ke alam hakiki Illahi.
Konon, maut datang menjemput tak pernah bersahut. Malaikat datang menuntut untuk merenggut. Manusia tak kuasa untuk berbicara. Tuhan Maha Kuasa atas surga dan neraka.

Memang benar! kuliah itu ibadah, kalau mahasiswa berniat untuk ibadah. Apalagi, kuliah itu untuk mencari ijazah, bakal nanti bekerja agar mudah mencari nafkah?

Benar juga. Mencari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana? Apalagi manusia sekarang ini—dalam bekerja—bekerja sikut sana-sikut sini; Banting tulang, banting orang; Tujuan utama mencari uang buat beli barang-barang biar dipandang orang.

Jarang manusia di muka bumi ini, menolak untuk dipuji dan dipuja, tatkala mereka berjaya. Pernah seseorang membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah, tapi sekadar pernah.

Pernah seseorang berniat mulia saat hendak mencari nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat gemerlapnya dunia.

Lalu kapan ibadahnya? Bagi sebagian orang, salat lima waktu itu dianggap cukup. Karena mereka pikir, salat begitu besar pahalanya. Salat amalan yang dihisab paling pertama. Salat adalah jalan membuka pintu surga. Kenapa harus cukup bila melaksanakan ibadah hanya berdasarkan salat?

Berapa lama manusia salat selama kurun waktu 50 tahun?
Dalam waktu 50 tahun, waktu terpakai untuk salat adalah , cuma dua tahun untuk salat. Ini dengan asumsi semua salat yang dilaksanakan diterima oleh Allah swt. Lalu, bagaimana bila salat dimaksud belum tentu berpahala dan Diterima?

Sekiranya pun salat selama dua tahun berpahala, rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa yang dilakukan selama 50 tahun: Dalam ucapan selalu dusta, baik yang terasa maupun yang disengaja; dalam ucapan selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya yang selalu kikir terhadap orang faqir; dalam setiap laku langkah selalu bergelimang dosa.

Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir cepat, isilah dengan sesuatu pekerjaan bermanfaat. Jangan di tunda-tunda lagi. Ingat! malaikat maut akan datang kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Akhirat adalah tujuan terakhir manusia. Apakah setiap insan di muka bumi ini siap menyambut malaikat maut kapan saja dan di mana saja? Cermin diri, tanyakan pada hati nurani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

isi di bawah sini...komentar anda : menggunakan anonimous atau menggunakan web anda contoh www.suralaya.com